Pada malam ketika hampa mendekap
dan nyaring jarum jam memerangkap,
hanya kau yang kehadirannya kuharap
sebab bersamamu aku merasa lengkap.
Pada malam ketika hampa mendekap
dan nyaring jarum jam memerangkap,
hanya kau yang kehadirannya kuharap
sebab bersamamu aku merasa lengkap.
Waktu
akan terus berjalan dan jalan hidup kita tidak akan lagi berkelindan. Ke mana
pun aku menuju, pertemuan denganmu tidak pernah terjadi dan aku terluntang-lantung.
Harus sejauh apa lagi aku pergi agar dapat bertemu denganmu? Kali ini saja, aku
akan mencoba berlari dan tidak hanya melihat sebidang punggung.
Tidak
ada lagi yang bisa dilakukan ketika semesta sudah tidak lagi memberi
kesempatan. Sekeras apa pun mencoba, sepertinya kehidupan ini tidak berpihak
kepada kita. Tidak ada tempat di mana kita bisa bahagia berdua. Tidak ada
tempat seperti itu di dunia ini. Tidak ada. Pada akhirnya, sebuah perpisahanlah
yang ada di depan mata.
Ribuan
hari telah berlalu dan aku masih menunggu keajaiban akan mempertemukan. Namun, mungkin
sudah bukan masanya, mereka bilang. Mungkin memang sudah bukan lagi waktunya
bagiku untuk terus memandangi punggungmu yang kian menjauh. Jarak kita bukanlah
bentang ruang yang tidak bisa ditempuh, tetapi hanya sampai setipis nyaris raga
kita berhadapan.
Semua yang setelahmu hanyalah
kemungkinan—tidak pernah mencapai kepastian. Sekeras apa pun aku berusaha, ternyata
hati ini tidak bisa lagi memberi rasa. Walaupun jauh di relungnya kutahu kita
tak mungkin bisa bersama, setitik asa itu akan selalu ada. Bukankah memang
seperti itu cinta? Kautahu kau takkan berakhir dengannya, tetapi memilih tetap mendekap
rasa itu di balik dada.
Tak pernah kutahu apa itu cinta sebelum denganmu bertatap muka. Kendati demikian, bukan wajahmu yang membuatku luluh lantak sedemikian rupa. Benar aku melihat jagat raya di sepasang netramu. Benar aku menyaksikan panas mentari meleleh di balik tawamu. Benar aku menemukan bulan sabit di senyummu. Namun, bukan karena itu semua aku jatuh hati kepadamu.
Tak pernah kutahu jika melupakan
seseorang jauh lebih sulit daripada apa pun yang pernah kulalui. Satu yang
kutahu: kau sama terlukanya denganku—atau mungkin lebih? Berkedip sekali saja,
kita akan sama-sama meneteskan air mata kala itu. Namun, kita sudah berjanji
untuk berbahagia demi satu sama lain, bukan? Sebuah janji kepada bulan.
Bukan main. Bisa-bisanya dia muncul
di kehidupan gue setelah ... berulah? Luar biasa. Kalau ada yang lebih keras
dari batu, itu pasti dia. Dipikirnya gue masih tertarik? Masih memikirkan dia?
Masih menginginkan dia? Hei, gue sudah bahagia dengan perempuan yang menemani
hari-hari gue sekarang, perempuan yang perhatian, perempuan yang tahu cara
mencintai, perempuan yang menyenangkan, perempuan yang terasa seperti kekasih
lama karena kisah kami berawal dari sebuah pertemanan. Bukankah itu paket
lengkap?
Sudah cukup. Apa pun yang dia lakukan, gue enggak akan peduli. Tugas gue sekarang adalah mengabaikannya. Gue yang memutuskan untuk pergi, gue yang menarik diri, jadi sudah pasti gue enggak akan menjilat ludah sendiri. Mengucapkan selamat tinggal pun rasanya enggak perlu karena gue ragu; apakah di hidupnya gue pernah seberharga itu?
Thanks for today, sayangkuuu
I love you so much, baby!
See? Betapa pacar gue tahu
bagaimana caranya membuat gue senang. Sesederhana mengirim pesan sudah membuat
gue merasa kalau gue dianggap. Pesan WhatsApp pun cukup, gue enggak pernah
meminta macam-macam. Gue tahu gue pantas dicintai, jadi gue akan mencintai
perempuan ini dengan setara.
***
Oh, baiklah. Hati ini ternyata belum
sepenuhnya lupa. Di antara ratusan manusia, harus kusaksikan dengan mata kepala
sendiri bahwa dia tertawa bersama perempuan lain. Seraut wajah yang mengingatkanku
akan hari-hari dikejar pekerjaan, dikelilingi orang-orang baru, dipisahkan oleh
jarak dan waktu, juga segudang kegiatan yang membuatku tetap sibuk. Aku tidak
pandai melupakan, maka rasa sakit itu kualihkan.
Kendati demikian, jantungku seperti
terbelah lagi menjadi kepingan-kepingan. Melihatnya sudah memiliki gandengan,
aku tersenyum miris. Betapa bodoh. Betapa naif. Betapa percuma. Kesempatan
kedua ternyata tidak ada, betapa pun aku menginginkannya. Tentu saja dia telah
lupa. Tentu saja dengan mudahnya dia akan berpindah haluan, berpaling ke lain
hati.
Kutepis segera bayang-bayang
dirinya. Cepat-cepat aku menyaru dalam keramaian, jangan sampai dia menyadari
keberadaanku. Lagi pula, aku masih punya hal-hal yang harus diselesaikan.
Calissa, kamu di mana? Aku udah di resto, ya.
Langkahku kian gegas. Pesan dari
manajerku itu mengembalikanku ke dunia nyata. Apa lagi jika bukan pekerjaan?
Kali ini aku ditunjuk Mbak Hesti untuk mengikuti rapat sebuah proyek, yang
katanya nanti harus kutangani. Pekerjaan baru, tanggung jawab baru, rekan kerja
baru, kolaborasi baru; semuanya serbabaru di hidupku. Ya, kecuali satu.
***
“Lo? Mbak Calissa, kan?”
Tidak pernah sekali pun aku terpikir
akan bertemu kembali dengan perempuan ini. Maksudku, setelah mutasi, kami tidak
pernah mengobrol lagi, bertukar pesan pun tidak. Kupikir dia masih di
perusahaan yang sama denganku, ternyata dia sudah pindah dan malah di sini?
Wajah Calissa terlihat cerah seperti
biasa, seolah-olah matahari selalu mengikutinya di mana pun dia berada. Lalu,
senyum yang dia tampilkan ketika melihatku .... Gila. Kalau aku es batu,
meleleh sudah pasti jadi nasib akhirku.
“Cukup Kemal?”
Aku tergelak. Tidak akan kulupakan
bagaimana aku dahulu jatuh hati padanya. Dia yang ramah dan suka bercanda
membuat segala penat hilang seketika. Di antara pekerjaan yang tiada henti, di
tengah perjuangan meniti karier, aku hampir tidak punya waktu untuk mencari
pacar. Namun, pada saat itu, ketika melihat Calissa untuk kali pertama, aku
takbisa menghindar.
“Kalian udah saling kenal?” Wanita di
depan Calissa bertanya sambil melirik ke arahku dan perempuan di belakangnya.
Calissa mempersilakan wanita
tersebut duduk terlebih dahulu, lalu dia menarik kursi di sebelahnya,
berhadapan denganku, dan mengatakan, “Iya, Mbak. Saya kenal Mas Kemal dari
kantor sebelumnya.”
“Ah, bagus kalau gitu. Aku enggak
perlu kenalin kalian lagi.”
Beberapa menit selanjutnya diisi
dengan “serah terima” proyek yang sebelumnya sudah kubahas dengan sang manajer,
Mbak Hesti. Kemarin-kemarin Mbak Hesti memang mengatakan kalau bukan dirinya
yang akan menangani proyek ini secara langsung, melainkan seseorang yang lain.
Siapa yang menyangka kalau orang itu ternyata Calissa?
Bagus sekali. Aku dan Calissa sama-sama menjadi perwakilan perusahaan untuk menangani proyek kolaborasi ini. Kami akan sering bertemu untuk mengobrol, bertukar pikiran, dinner meeting seperti sekarang, atau mungkin nanti dinner without meeting?
Aku tidak tahu mana yang lebih menyakitkan; meninggalkanmu atau ditinggalkan olehmu. Keduanya takada beda, sama-sama menorehkan luka yang tidak akan pernah mengering. Mencintaimu bukan perkara mudah, tetapi itulah satu-satunya yang selamanya tidak akan berubah. Sedetak jantung pun takada jeda, selama itu tentangmu.
Namanya Ame, seorang gadis yang tak
pernah melebarkan payung ketika hujan mengguyur. Seperti kali ini, dia berjalan
di tengah hujan sore hari. Baginya, hujan bukanlah sesuatu yang harus dihindari,
apalagi ditakuti.
Tak banyak yang
tahu bahwa hujan dapat menyampaikan suara hati. Tentu saja, di antara rintik
hujan yang berjatuhan, ada suara hati Ame yang begitu membingungkan, tentang
sebuah rindu yang tak bisa dijelaskan.
“Ame!”
Suara panggilan
itu menghentikan langkah Ame. Gadis itu menoleh ke sumber suara. Rupanya
Michelia.
“Mentang-mentang
besok hari Sabtu, jadi enggak peduli kalau seragamnya basah.” Michelia
berkomentar setelah menyejajarkan langkah dengan Ame.
Ame tersenyum
kecil menyadari rintik hujan tak lagi berjatuhan di atas kepalanya. Selalu saja
Michelia takpeduli jika dia sangat suka berhujan-hujanan daripada harus
berlindung di bawah payung yang dilebarkan.
Seperti ngengat yang kuat dan tidak rentan
Apa pun yang terjadi, tidak mengubah perasaan
Benar-benar, tidak, demi langit dan seluruh tatanan
Aku akan kembali kepadamu, ke mana pun aku berjalan
Mengapa di kehidupan yang hanya
satu kali ini, aku tak bisa berakhir denganmu? Sudah aku mengagumimu dari kejauhan.
Sudah aku menyimpan perasaan ini rapat-rapat. Namun, seperti hujan yang
tiba-tiba turun ketika langit sedang cerah, kau memasuki hidupku dengan warna-warni
dan senyum yang membuat mentari merasa tersaingi. Kemarau yang tak kusukai telah
tersapu bersih sejuk hadirmu.
Kaulah pulangku; purnama benderang
Sebagaimana aku kembalimu; bintang cerlang
Ribuan hari sudah jarak kian jauh membentang
Namun, sungguh tak bisa dielak kita tak renggang
Tidak dijawab.
Lagi.
Ini sudah
panggilan kedua. Berselang sepuluh menit dari panggilan pertama, yang juga
tidak dijawab.
Kesabaran Dhesta yang
setipis tisu dibelah tiga itu kini sudah habis.
Apa susahnya
mengangkat telepon?
Cukup dua kali,
tidak akan dia menelepon lagi.
Untuk apa kalau tidak pernah diangkat? Buang-buang waktu saja.
Jika bukan karena kehadiran bingkisan lebaran, dia tidak mau repot-repot menghubungi nomor ponsel yang tidak pernah ada dalam daftar kontaknya itu. Dhesta menghela napas, memejamkan mata. Perempuan itu benar-benar merepotkan.
Dasar batu.
Dalam hati, Dhesta menggerutu. Selama perjalanan kisah kasihnya, demi apa pun,
perempuan terbaru ini menguji kesabarannya. Sebenarnya, dia bisa pergi saat itu
juga, tetapi kepalang sial karena tertarik sejak awal. Seolah-olah sudah lama,
padahal belum seumur jagung mereka saling kenal.
Mungkin memang seharusnya dia pergi. Dhesta tidak akan menengok ke belakang lagi, tidak mau perasaannya makin dalam. Setelah ini, dia akan menghapus perempuan itu dari hidupnya. Tidak perlu menjelaskan apa pun, dia sudah bisa menyimpulkan: lebih baik menjauh daripada berjuang untuk kesia-siaan. Dia hanya akan fokus dengan masa depan.
