Wednesday, 12 August 2026

Kau; Alasan Segala

Pada malam ketika hampa mendekap

dan nyaring jarum jam memerangkap,

hanya kau yang kehadirannya kuharap

sebab bersamamu aku merasa lengkap.

 

https://www.pixiv.net/en/artworks/95735906

Friday, 31 July 2026

Kali Ini Saja

               Waktu akan terus berjalan dan jalan hidup kita tidak akan lagi berkelindan. Ke mana pun aku menuju, pertemuan denganmu tidak pernah terjadi dan aku terluntang-lantung. Harus sejauh apa lagi aku pergi agar dapat bertemu denganmu? Kali ini saja, aku akan mencoba berlari dan tidak hanya melihat sebidang punggung.

Saturday, 13 June 2026

Hanya Kita yang Bisa

Mereka kerap bertanya-tanya;

mengapa kita tetap bertahan

di tengah carut-marut kehidupan

dan jarak yang memisahkan?

 

Kita hanya saling melirik

penuh arti; mutlak memahami.

Mungkin di dunia ini ada hal-hal

yang hanya bisa dilakukan oleh kita.



https://www.pixiv.net/en/artworks/52917317

Sunday, 31 May 2026

Pada Akhirnya, Perpisahan

           Tidak ada lagi yang bisa dilakukan ketika semesta sudah tidak lagi memberi kesempatan. Sekeras apa pun mencoba, sepertinya kehidupan ini tidak berpihak kepada kita. Tidak ada tempat di mana kita bisa bahagia berdua. Tidak ada tempat seperti itu di dunia ini. Tidak ada. Pada akhirnya, sebuah perpisahanlah yang ada di depan mata.

Tuesday, 28 April 2026

Menyangkal Segala

Aku ingin menyangkal segala;
kenangan yang tertinggal,
hal yang sisakan sesal,
kita yang manunggal.

https://www.pixiv.net/en/artworks/73875649

Tuesday, 24 March 2026

Setipis Nyaris

              Ribuan hari telah berlalu dan aku masih menunggu keajaiban akan mempertemukan. Namun, mungkin sudah bukan masanya, mereka bilang. Mungkin memang sudah bukan lagi waktunya bagiku untuk terus memandangi punggungmu yang kian menjauh. Jarak kita bukanlah bentang ruang yang tidak bisa ditempuh, tetapi hanya sampai setipis nyaris raga kita berhadapan.

https://www.pixiv.net/en/artworks/55995314

Wednesday, 31 December 2025

Seberapa?

Seberapa jauh harus
aku pergi lagi untuk
sungguh melupakanmu
yang tak mengingatku?

Seberapa lama harus
aku menunggu untuk
membiarkanmu pelan
tertelan duka sendirian?

https://www.pixiv.net/en/artworks/60881631

Saturday, 8 November 2025

Semua yang Setelahmu

              Semua yang setelahmu hanyalah kemungkinan—tidak pernah mencapai kepastian. Sekeras apa pun aku berusaha, ternyata hati ini tidak bisa lagi memberi rasa. Walaupun jauh di relungnya kutahu kita tak mungkin bisa bersama, setitik asa itu akan selalu ada. Bukankah memang seperti itu cinta? Kautahu kau takkan berakhir dengannya, tetapi memilih tetap mendekap rasa itu di balik dada.

https://www.pixiv.net/en/artworks/72797065

Friday, 13 June 2025

Sekelebat tentang Kita

Di bentangan lurusnya jalan yang kaulewati
Di antara gelapnya malam yang kaulalui
Di tengah keramaian tatkala kau sendirian
Pernahkah kauingat sekelebat tentang kita?

https://www.pixiv.net/en/artworks/13778167

Saturday, 12 April 2025

Janji kepada Bulan

              Tak pernah kutahu apa itu cinta sebelum denganmu bertatap muka. Kendati demikian, bukan wajahmu yang membuatku luluh lantak sedemikian rupa. Benar aku melihat jagat raya di sepasang netramu. Benar aku menyaksikan panas mentari meleleh di balik tawamu. Benar aku menemukan bulan sabit di senyummu. Namun, bukan karena itu semua aku jatuh hati kepadamu.

              Tak pernah kutahu jika melupakan seseorang jauh lebih sulit daripada apa pun yang pernah kulalui. Satu yang kutahu: kau sama terlukanya denganku—atau mungkin lebih? Berkedip sekali saja, kita akan sama-sama meneteskan air mata kala itu. Namun, kita sudah berjanji untuk berbahagia demi satu sama lain, bukan? Sebuah janji kepada bulan.

https://www.pixiv.net/en/artworks/128455549

Friday, 7 March 2025

1:1.000

        Bukan main. Bisa-bisanya dia muncul di kehidupan gue setelah ... berulah? Luar biasa. Kalau ada yang lebih keras dari batu, itu pasti dia. Dipikirnya gue masih tertarik? Masih memikirkan dia? Masih menginginkan dia? Hei, gue sudah bahagia dengan perempuan yang menemani hari-hari gue sekarang, perempuan yang perhatian, perempuan yang tahu cara mencintai, perempuan yang menyenangkan, perempuan yang terasa seperti kekasih lama karena kisah kami berawal dari sebuah pertemanan. Bukankah itu paket lengkap?

        Sudah cukup. Apa pun yang dia lakukan, gue enggak akan peduli. Tugas gue sekarang adalah mengabaikannya. Gue yang memutuskan untuk pergi, gue yang menarik diri, jadi sudah pasti gue enggak akan menjilat ludah sendiri. Mengucapkan selamat tinggal pun rasanya enggak perlu karena gue ragu; apakah di hidupnya gue pernah seberharga itu?

        Thanks for today, sayangkuuu

        I love you so much, baby!

        See? Betapa pacar gue tahu bagaimana caranya membuat gue senang. Sesederhana mengirim pesan sudah membuat gue merasa kalau gue dianggap. Pesan WhatsApp pun cukup, gue enggak pernah meminta macam-macam. Gue tahu gue pantas dicintai, jadi gue akan mencintai perempuan ini dengan setara.

***

        Oh, baiklah. Hati ini ternyata belum sepenuhnya lupa. Di antara ratusan manusia, harus kusaksikan dengan mata kepala sendiri bahwa dia tertawa bersama perempuan lain. Seraut wajah yang mengingatkanku akan hari-hari dikejar pekerjaan, dikelilingi orang-orang baru, dipisahkan oleh jarak dan waktu, juga segudang kegiatan yang membuatku tetap sibuk. Aku tidak pandai melupakan, maka rasa sakit itu kualihkan.

        Kendati demikian, jantungku seperti terbelah lagi menjadi kepingan-kepingan. Melihatnya sudah memiliki gandengan, aku tersenyum miris. Betapa bodoh. Betapa naif. Betapa percuma. Kesempatan kedua ternyata tidak ada, betapa pun aku menginginkannya. Tentu saja dia telah lupa. Tentu saja dengan mudahnya dia akan berpindah haluan, berpaling ke lain hati.

        Kutepis segera bayang-bayang dirinya. Cepat-cepat aku menyaru dalam keramaian, jangan sampai dia menyadari keberadaanku. Lagi pula, aku masih punya hal-hal yang harus diselesaikan.

        Calissa, kamu di mana? Aku udah di resto, ya.

        Langkahku kian gegas. Pesan dari manajerku itu mengembalikanku ke dunia nyata. Apa lagi jika bukan pekerjaan? Kali ini aku ditunjuk Mbak Hesti untuk mengikuti rapat sebuah proyek, yang katanya nanti harus kutangani. Pekerjaan baru, tanggung jawab baru, rekan kerja baru, kolaborasi baru; semuanya serbabaru di hidupku. Ya, kecuali satu.

***

        “Lo? Mbak Calissa, kan?”

        Tidak pernah sekali pun aku terpikir akan bertemu kembali dengan perempuan ini. Maksudku, setelah mutasi, kami tidak pernah mengobrol lagi, bertukar pesan pun tidak. Kupikir dia masih di perusahaan yang sama denganku, ternyata dia sudah pindah dan malah di sini?

        Wajah Calissa terlihat cerah seperti biasa, seolah-olah matahari selalu mengikutinya di mana pun dia berada. Lalu, senyum yang dia tampilkan ketika melihatku .... Gila. Kalau aku es batu, meleleh sudah pasti jadi nasib akhirku.

        “Cukup Kemal?”

        Aku tergelak. Tidak akan kulupakan bagaimana aku dahulu jatuh hati padanya. Dia yang ramah dan suka bercanda membuat segala penat hilang seketika. Di antara pekerjaan yang tiada henti, di tengah perjuangan meniti karier, aku hampir tidak punya waktu untuk mencari pacar. Namun, pada saat itu, ketika melihat Calissa untuk kali pertama, aku takbisa menghindar.

        “Kalian udah saling kenal?” Wanita di depan Calissa bertanya sambil melirik ke arahku dan perempuan di belakangnya.

        Calissa mempersilakan wanita tersebut duduk terlebih dahulu, lalu dia menarik kursi di sebelahnya, berhadapan denganku, dan mengatakan, “Iya, Mbak. Saya kenal Mas Kemal dari kantor sebelumnya.”

        “Ah, bagus kalau gitu. Aku enggak perlu kenalin kalian lagi.”

        Beberapa menit selanjutnya diisi dengan “serah terima” proyek yang sebelumnya sudah kubahas dengan sang manajer, Mbak Hesti. Kemarin-kemarin Mbak Hesti memang mengatakan kalau bukan dirinya yang akan menangani proyek ini secara langsung, melainkan seseorang yang lain. Siapa yang menyangka kalau orang itu ternyata Calissa?

        Bagus sekali. Aku dan Calissa sama-sama menjadi perwakilan perusahaan untuk menangani proyek kolaborasi ini. Kami akan sering bertemu untuk mengobrol, bertukar pikiran, dinner meeting seperti sekarang, atau mungkin nanti dinner without meeting?

https://www.pixiv.net/en/artworks/123109813

Saturday, 8 February 2025

Kita yang Terluka

Terpisah selangkah, di depan mata
Aku melukaimu dengan kata-kata
Semestinya ini hanya tentang kita
Tidak ada yang harus menderita

Semenjak mataku jatuh pandang kepadamu
Tepat pada wajah yang berpaling dari arahku
Untuk sesaat yang terasa bagaikan keabadian
Segalanya memudar dan hanya ada satu warna

Kau. Jiwaku umpama bunga matahari yang akan
Selalu dan selamanya mengikuti cerah sinarmu
Hingga ke titik waktu kau meredup, penuh luka
Namun, aku tak pernah bisa berhenti mengejarmu

Wednesday, 25 December 2024

Senantiasa Satu Dirimu

            Aku tidak tahu mana yang lebih menyakitkan; meninggalkanmu atau ditinggalkan olehmu. Keduanya takada beda, sama-sama menorehkan luka yang tidak akan pernah mengering. Mencintaimu bukan perkara mudah, tetapi itulah satu-satunya yang selamanya tidak akan berubah. Sedetak jantung pun takada jeda, selama itu tentangmu.

https://www.pixiv.net/en/artworks/108921883

Saturday, 2 November 2024

Rindu yang Berjatuhan

        Namanya Ame, seorang gadis yang tak pernah melebarkan payung ketika hujan mengguyur. Seperti kali ini, dia berjalan di tengah hujan sore hari. Baginya, hujan bukanlah sesuatu yang harus dihindari, apalagi ditakuti.

https://www.pixiv.net/en/artworks/100130693

Tak banyak yang tahu bahwa hujan dapat menyampaikan suara hati. Tentu saja, di antara rintik hujan yang berjatuhan, ada suara hati Ame yang begitu membingungkan, tentang sebuah rindu yang tak bisa dijelaskan.

“Ame!”

Suara panggilan itu menghentikan langkah Ame. Gadis itu menoleh ke sumber suara. Rupanya Michelia.

“Mentang-mentang besok hari Sabtu, jadi enggak peduli kalau seragamnya basah.” Michelia berkomentar setelah menyejajarkan langkah dengan Ame.

Ame tersenyum kecil menyadari rintik hujan tak lagi berjatuhan di atas kepalanya. Selalu saja Michelia takpeduli jika dia sangat suka berhujan-hujanan daripada harus berlindung di bawah payung yang dilebarkan.


Baca selengkapnya di buku Frasa Fana
Pemesanan hubungi line: @ecn9022n
atau kirim pesan melalui Instagram: KoniginDerRosen

 


Saturday, 5 October 2024

Kembali Kepadamu

Seperti ngengat yang kuat dan tidak rentan

Apa pun yang terjadi, tidak mengubah perasaan

Benar-benar, tidak, demi langit dan seluruh tatanan

Aku akan kembali kepadamu, ke mana pun aku berjalan




Monday, 12 August 2024

Di Kehidupan yang Hanya Satu Kali

              Mengapa di kehidupan yang hanya satu kali ini, aku tak bisa berakhir denganmu? Sudah aku mengagumimu dari kejauhan. Sudah aku menyimpan perasaan ini rapat-rapat. Namun, seperti hujan yang tiba-tiba turun ketika langit sedang cerah, kau memasuki hidupku dengan warna-warni dan senyum yang membuat mentari merasa tersaingi. Kemarau yang tak kusukai telah tersapu bersih sejuk hadirmu.

Monday, 27 May 2024

Kaulah Pulangku

Kaulah pulangku; purnama benderang

Sebagaimana aku kembalimu; bintang cerlang

Ribuan hari sudah jarak kian jauh membentang

Namun, sungguh tak bisa dielak kita tak renggang


Saturday, 27 April 2024

Panggilan Tak Terjawab

Tidak dijawab. Lagi.

Ini sudah panggilan kedua. Berselang sepuluh menit dari panggilan pertama, yang juga tidak dijawab.

Kesabaran Dhesta yang setipis tisu dibelah tiga itu kini sudah habis.

Apa susahnya mengangkat telepon?

Cukup dua kali, tidak akan dia menelepon lagi.

Untuk apa kalau tidak pernah diangkat? Buang-buang waktu saja.

Jika bukan karena kehadiran bingkisan lebaran, dia tidak mau repot-repot menghubungi nomor ponsel yang tidak pernah ada dalam daftar kontaknya itu. Dhesta menghela napas, memejamkan mata. Perempuan itu benar-benar merepotkan.

Dasar batu. Dalam hati, Dhesta menggerutu. Selama perjalanan kisah kasihnya, demi apa pun, perempuan terbaru ini menguji kesabarannya. Sebenarnya, dia bisa pergi saat itu juga, tetapi kepalang sial karena tertarik sejak awal. Seolah-olah sudah lama, padahal belum seumur jagung mereka saling kenal.

Mungkin memang seharusnya dia pergi. Dhesta tidak akan menengok ke belakang lagi, tidak mau perasaannya makin dalam. Setelah ini, dia akan menghapus perempuan itu dari hidupnya. Tidak perlu menjelaskan apa pun, dia sudah bisa menyimpulkan: lebih baik menjauh daripada berjuang untuk kesia-siaan. Dia hanya akan fokus dengan masa depan.

                                                                                 

Sunday, 10 March 2024

Bagaimana Caranya Mengalihkanmu dari Segenap Pikiranku?

            Aku tidak tahu. Bodohnya. Betapa sial dan menyebalkan. Kalau saja aku memiliki lampu jin Aladdin, tentu aku tidak harus dibuat pusing oleh segala perkara tentangmu ini. Tiga permintaan dan segalanya akan berakhir—bahkan sejak permintaan pertama.

            Kau pernah bertanya, bisakah kau memiliki sebagian saja dari diriku? Oh, betapa kau tidak akan pernah bisa membayangkannya. Kau tidak tahu aku sudah ada di sana, menyaksikanmu, mencermatimu, menyimpanmu di benakku. Kau telah mencuri perhatianku sejak hari pertama.


Thursday, 29 February 2024

Seperti Saat Hujan

Seperti saat hujan
aku melupakan payung
yang tertinggal di belakang
pintu kamar sebab terburu-buru

https://www.pixiv.net/en/artworks/108739621

THEME BY RUMAH ES