Tidak
ada lagi yang bisa dilakukan ketika semesta sudah tidak lagi memberi
kesempatan. Sekeras apa pun mencoba, sepertinya kehidupan ini tidak berpihak
kepada kita. Tidak ada tempat di mana kita bisa bahagia berdua. Tidak ada
tempat seperti itu di dunia ini. Tidak ada. Pada akhirnya, sebuah perpisahanlah
yang ada di depan mata.
Meskipun demikian, bagaimana jadinya jika aku berkeras untuk
menciptakan sendiri tempat itu? Bagaimana jika kendatipun kau menyerah, aku tidak
pernah mau berhenti? Akan seperti apa jadinya bilamana kita tidak sama-sama
melepaskan? Apakah pada akhirnya, bukan perpisahan yang menjadi kenyataan?
Sama-sama berusaha menjalani hidup sebaik mungkin, tetapi benarkah
kita tidak apa-apa? Mengapa kala itu kita saling membohongi diri sendiri? Jagalah
diri baik-baik, berbahagialah selalu, raihlah mimpi itu, bersinarlah terus
sampai nanti; kata-kata yang dilontarkan dahulu sebelum pada akhirnya kita
harus berpisah.
Akankah ada waktu untuk kita bertemu sekali lagi? Apakah kita
akan kembali berhadapan setelah hidup memisahkan dan dengan teganya membuat
hari-hari berantakan? Kenangan akan senyuman dan hangat tawa, hanya itulah yang
disisakan oleh dunia yang tidak menyediakan tempat untuk kita bahagia bersama
selamanya. Pada akhirnya, hanya ada ratap perpisahan.
Mungkin memang sudah seharusnya berakhir, sudah tidak ada
lagi walaupun sedikit saja. Segalanya telah usai tanpa ada kata selesai. Kita bertatapan
tanpa mengucapkan selamat tinggal. Lalu, ke mana sebenarnya kau dan aku akan
berjalan? Di antara waktu yang merentang ke depan, apakah kita akan berpikir
bahwa cinta ini adalah sebuah kegagalan? Pada akhirnya, sebab, hanyalah perpisahan.
Tidak ada penyesalan, itu pasti. Tidak ada juga yang bisa disalahkan, baik kau maupun aku. Bukankah para perokok tetap mengisap sebatang demi sebatang meskipun tahu itu akan merusak paru-paru mereka? Maka, tidak ada salahnya ketika kau dan aku merajut kisah kasih hari demi hari walaupun pada akhirnya, perpisahan.

No comments:
Post a Comment