Tuesday, 24 March 2026

Setipis Nyaris

              Ribuan hari telah berlalu dan aku masih menunggu keajaiban akan mempertemukan. Namun, mungkin sudah bukan masanya, mereka bilang. Mungkin memang sudah bukan lagi waktunya bagiku untuk terus memandangi punggungmu yang kian menjauh. Jarak kita bukanlah bentang ruang yang tidak bisa ditempuh, tetapi hanya sampai setipis nyaris raga kita berhadapan.

https://www.pixiv.net/en/artworks/55995314

              Memandang langit malam, aku senantiasa bertanya-tanya, apakah hidup yang kita jalani, hari-hari yang kita lalui, dan masa depan yang akan kita tuju, adalah pilihan terbaik yang kita ambil? Apakah pernah ada barang setitik penyesalan di dalam lubuk hati? Atas semua yang telah terjadi, benarkah kita sudah mengikhlaskan?

              Aku merindukanmu seumur hidup; aku tahu pasti tanpa sangsi. Aku akan selalu merindukanmu lebih daripada apa pun. Tidak peduli walaupun harus patah untuk kali kedua, semuanya sepadan. Setiap patah, setiap langkah, setiap rasa, setiap asa, seluruhnya sepadan untuk cinta yang takkan pernah padam.

              Untuk bisa sejauh ini, kita telah melewati segala. Tidak hanya tentang perasaan, kehidupan kita saling berkelindan. Seterasing apa pun kita di tempat masing-masing, sesungguhnya kita takkan pernah menjadi kembali asing. Terlalu banyak yang kautinggalkan—menghapusmu berarti menghilangkan jiwaku. Aku tersesat dalam memori bahagia bersamamu.

              Kendati demikian, jika memang harus berakhir sekali lagi, tidak ada yang bisa dilakukan. Hanya kebahagiaanmu yang selamanya kuharapkan tak pernah sirna. Nanti, jika memang ada masanya, meskipun setipis nyaris, aku akan selalu mensyukurinya. Bukankah di kedalaman laut pun manusia masih berharap? Bukankah jika esok kiamat, benih tumbuhan tetap harus ditanam? Maka seperti itulah hati yang tidak pernah berhenti menyebut namamu dalam diam.

             


No comments:

Post a Comment

THEME BY RUMAH ES