Ribuan
hari telah berlalu dan aku masih menunggu keajaiban akan mempertemukan. Namun, mungkin
sudah bukan masanya, mereka bilang. Mungkin memang sudah bukan lagi waktunya
bagiku untuk terus memandangi punggungmu yang kian menjauh. Jarak kita bukanlah
bentang ruang yang tidak bisa ditempuh, tetapi hanya sampai setipis nyaris raga
kita berhadapan.
Memandang langit malam, aku
senantiasa bertanya-tanya, apakah hidup yang kita jalani, hari-hari yang kita
lalui, dan masa depan yang akan kita tuju, adalah pilihan terbaik yang kita ambil?
Apakah pernah ada barang setitik penyesalan di dalam lubuk hati? Atas semua
yang telah terjadi, benarkah kita sudah mengikhlaskan?
Aku merindukanmu seumur hidup; aku
tahu pasti tanpa sangsi. Aku akan selalu merindukanmu lebih daripada apa pun.
Tidak peduli walaupun harus patah untuk kali kedua, semuanya sepadan. Setiap
patah, setiap langkah, setiap rasa, setiap asa, seluruhnya sepadan untuk cinta
yang takkan pernah padam.
Untuk bisa sejauh ini, kita telah melewati
segala. Tidak hanya tentang perasaan, kehidupan kita saling berkelindan. Seterasing
apa pun kita di tempat masing-masing, sesungguhnya kita takkan pernah menjadi kembali
asing. Terlalu banyak yang kautinggalkan—menghapusmu berarti menghilangkan
jiwaku. Aku tersesat dalam memori bahagia bersamamu.
Kendati demikian, jika memang
harus berakhir sekali lagi, tidak ada yang bisa dilakukan. Hanya kebahagiaanmu
yang selamanya kuharapkan tak pernah sirna. Nanti, jika memang ada masanya,
meskipun setipis nyaris, aku akan selalu mensyukurinya. Bukankah di kedalaman
laut pun manusia masih berharap? Bukankah jika esok kiamat, benih tumbuhan
tetap harus ditanam? Maka seperti itulah hati yang tidak pernah berhenti
menyebut namamu dalam diam.

No comments:
Post a Comment