Melepaskanmu tidak pernah ada dalam
rencanaku, begitu pula dengan jatuh cinta kepadamu. Semuanya terjadi begitu
saja; kau yang melintas di kejauhan dan aku yang tidak terpikir sedikit pun
untuk melihatmu. Akan tetapi, dari semua benang yang menjalin kehidupan,
ternyata kita bertemu. Pada satu titik, kita menjalin kisah yang menghabiskan
bergulung-gulung benang, meluruskan kekusutannya, menciptakan berbagai
kenangan.
Mungkin kita ditakdirkan untuk
memiliki tempat di hati satu sama lain, untuk memberi warna dan mengubah hidup satu
sama lain, untuk memberikan dampak dan menyisakan jejak yang menyejarah pada
inti diri satu sama lain. Mungkin, kendatipun kita tidak ada lagi di kehidupan satu
sama lain, apa yang pernah kita lalui bersama menjadi satu-satunya pengingat
bahwa kita bisa menjalani hidup tanpa satu sama lain.
Kuharap akulah yang kauingat tatkala pada saat paling gelap kau
terdiam tengah malam dan taktahu harus bagaimana. Kuharap akulah yang kaucari
jika suatu hari kau tak menemukan rumah yang akan menampung segala beban yang
harus kautanggung. Kuharap akulah yang menjadi setitik cahaya yang akan
menuntunmu pulang bilamana kau kehilangan arah dan takingin lagi berlari dari
kenyataan.
Kau pernah menyelamatkanku dari palung paling dalam. Kau
pernah menyejukkan hatiku yang gersang terbakar ganasnya nasib sehari-hari. Kau
menjadi satu-satunya yang kubiarkan tetap ada manakala aku menghilang dari
panggung sandiwara. Kau satu
yang akan selalu menjadi alasanku dalam memilih hidup ke depan. Kau yang selamanya membuat kakiku tetap mampu berjalan tegak di antara kerikil tajam.
Tuhan tahu, tetapi menunggu. Menunggu
aku berhenti memperjuangkanmu meskipun tidak mungkin. Menunggu kau memutus
segala ikatan walaupun takingin. Menunggu kita sadar bahwa kita tidaklah
diciptakan untuk satu sama lain. Menunggu hati kita sama-sama siap untuk
kehilangan dan tidak pernah lagi saling berkelindan. Menunggu hari terakhir
manakala kita harus sekeras itu dipatahkan oleh kepahitan.
Kita hanya dua orang yang pernah jatuh cinta tanpa tahu ke mana perasaan itu harus dibawa, seperti apa perasaan itu harus diperlakukan, untuk apa perasaan itu ada, apa saja harga yang harus dibayar demi mempertahankannya, dan bagaimana cara membuangnya. Kini yang tersisa hanyalah hari-hari untuk menerima dan melepaskan segala—semua yang kita kira akan abadi untuk satu sama lain.

No comments:
Post a Comment