Ada sebaris harapan
Di antara penerbangan
Rindu yang melintasi
Cakrawala pagi hari
Ada sebuah
kesempatan
Di antara
penerbangan
Jendela yang
melingkar
Arakan awan
berputar
Ada sebaris harapan
Di antara penerbangan
Rindu yang melintasi
Cakrawala pagi hari
Ada sebuah
kesempatan
Di antara
penerbangan
Jendela yang
melingkar
Arakan awan
berputar
Di kota tempat kita kali pertama berjumpa, aku ingin menyampaikan sekali lagi saja. Banyak yang terjadi selama ini, terlalu banyak jika harus kubuat senarainya. Lagi pula, seperti apa pun aku berusaha menuangkanmu ke dalam kata-kata, tak pernah aku berhasil menggambarkan semua tentangmu, juga tentang kita, yang melampaui segala kata. Kita sama-sama tahu bahwa yang tak terucapkan adalah yang justru tersampaikan. Ingatkah kau manakala sepasang netra kita saling bertaut, sementara senyum menyambut dan detak jantung bersahut?
Pada suatu hari yang bahkan tak kuingat bagaimana warna langit kala itu,
aku melihatmu. Namun, dunia yang serbacepat ini mengalihkanku, dengan waktu
harus berpacu. Aku melewatkanmu. Hanya sejenak dan aku cukup tahu; sebuah
memori untuk dikenang nanti.
Hidup segan, tetapi mati setengah enggan. Terlalu
berantakan, bukan lagi seperti kapal pecah, melainkan sampah luar angkasa yang
tiada seorang pun bisa membersihkan. Beterbangan tanpa tujuan, bertemu atom
hidrogen akan menjadi keberuntungan.
Kau kutemukan tatkala hati ini tak lagi miliki bentuk yang beraturan. Di luar dugaan, ketika hidup seperti takkan pernah kembali terasa nyata, kaulah yang hadir begitu nyata. Kau bahkan tak harus melakukan sesuatu untuk memekarkan perasaan. Benih-benih yang tertanam jauh di ladang jiwa seketika bersemi menyambut senyummu yang berseri.
Kau kutemukan saat tubuh ini sekarat.
Seperti pohon yang tidak selamanya kukuh, diri ini pun nyaris terbunuh.
Berulang kali terjatuh, tetapi hidup tidak membiarkanku mencurangi kematian
kendatipun rasanya takkan pernah lagi bisa menjadi sosok yang utuh. Namun, menemukanmu
membuatku tahu jika masih ada sesuatu yang dapat tumbuh.
Pulang, engkau sudah, ke rumah yang selama ini membuatmu nyaman hingga pada yang lain meninggalkan. Sungguhkah semua habis tertinggal? Tidakkah kausadari masih ada yang tersisa—di antara kita? Lihat baik-baik ke dalam dirimu, benarkah sudah tak ada setitik pun aku? Amati dengan saksama lubuk hatimu, apakah setiap incinya bukan lagi untukku? Berbincanglah dengan semurni jiwamu, siapakah sebenarnya yang membuatmu merasa lengkap?
Kita mungkin sudah selesai, kisah
kita telah berakhir, tetapi masih ada yang kusangsikan; perihal khayal.
Sepertinya di luasnya langit, masih ada sisa-sisa angan yang dahulu kita coba
terbangkan. Begitu pun di kedalaman lautan, buih-buih asa belum menabrak karang.
Kepada bulan jua kita pernah mengutarakan rindu, menitipkan salam agar sendiri
tak berarti sepi.
Khayal tentangmu, tak bisa
kumungkiri, membayang di kehidupanku kendatipun aku bersusah payah menghilang. Semua
tentang kita memang hanya patut dikenang, bukan diulang, tetapi bilamana bisa,
mungkinkah terbuang? Dalam dirimu, khayal tentangku, apakah juga masih
terngiang-ngiang? Sampai kapan kita akan terus dihantui bayang-bayang yang mengikat
tanpa tahu bahwa kita sudah hidup saling berseberang?