Telah kutanggalkan semua yang
Lekat padamu hingga aku taktahu
Mana aku, mana dirimu; apakah kita
Sebetul-betul terikat atau rasaku semu?
Telah kutanggalkan semua yang
Lekat padamu hingga aku taktahu
Mana aku, mana dirimu; apakah kita
Sebetul-betul terikat atau rasaku semu?
Sudah berapa tahun berlalu sejak tanya tak kunjung bertemu jawab? Begitu lama, bukan, mereka dijauhkan kenyataan? Apakah kini telah terlambat? Bolehkah aku menjawab pertanyaan yang bahkan mungkin tak lagi kauingat? Aku hanya merasa mungkin saat ini adalah waktu yang tepat. Setelah begitu banyak yang berserak, setelah hati tak lagi saling tertambat, setelah aku bergerak dengan cepat, semoga jawabanku dapat mengusir penat.
Langit tidak pernah kosong. Awan tidak pernah diam. Angin tidak pernah sia-sia. Segalanya membawa pertanda, menyiratkan pesan yang hendak disampaikan. Sesuatu sudah, sedang, atau akan terjadi. Aku hanya perlu mengikutinya, tanpa menolak, tanpa mengelak, juga bukan sekadar menebak-nebak. Pernah aku terjebak; ketakutan akan penafsiran yang berbanding terbalik. Pelik.
Pernah aku lepas tertawa hingga lupa
kapan kali terakhir bahuku berguncang. Pernah pipiku merona begitu merah hingga
lupa apakah aku sedang bermimpi atau masih terjaga. Pernah aku menatap
kehadiran cermin jiwa hingga lupa bahwasanya tidak semua yang dicintai bisa
dimiliki. Pernah aku mengangankan sepetak hal hingga lupa jikalau segalanya
akan tergulung masa.