Friday, 12 August 2016

Di Antara Bintang

Tidak bergandengan, tapi saling memberikan
Tidak berdampingan, tapi saling terus berjalan
Tidak berdekatan, tapi saling menguatkan
Tidak berbicara, tapi saling mengungkapkan

Seperti itulah kita sekarang, terpisah segala kenang
Saat waktu kencang berlari, tak lagi berdetak pelan
Entah kapan sebuah waktu lahir dan berakhir
Namun saat menemukanmu, aku merasa waktu berhenti

Dalam ceritaku, kaulah sang tokoh utama
Di setiap lembar, kau dapat ditemukan
Kau adalah kata tak berjeda
Membuatku terus menulis hingga lupa

Aku lupa bahwa sebuah cerita harus memiliki akhir
Namun aku tak pernah ingin kisah kita berakhir
Rasanya semua sudah selesai begitu saja
Saat aku telah sampai di pengujung cerita


Cerita kita selesai, namun tidak dengan kenangan ini
Sebuah kisah pasti berakhir, namun kita abadi
Kita masih di sini, saling menatap satu sama lain
Akan terus seperti ini, hingga kata waktu tak lagi berarti

Aku melepaskanmu, membiarkanmu berjalan di kegelapan
Namun kau tak perlu khawatir, aku tak ke mana-mana
Aku telah menjadi sebatang lilin yang kini kaugenggam
Membakar perlahan diriku demi menuntunmu menuju dirinya

Simpan aku di tengah meja makan, di dekat sepasang cincin berkilauan
Biarkan aku melihat senyum manismu dari cahaya kecil yang kupancarkan
Habiskan malammu dengan tawa hingga aku tak bersisa
Saat aku tak lagi ada, pastikan cincin itu telah melingkar di jarinya

Percayalah, kita tak pernah benar-benar selesai
Kaugenggam aku begitu saja di detik terakhir
Cincin itu bukan untuknya, melainkan untukku
Tatapan itu milikku, tak pernah menjadi miliknya

Kau melebur bersamaku, hilang dari panggung dunia
Dalam sekejap kita ada di tengah semesta
Melanjutkan cinta ini hingga kisah kita melegenda
Di antara bintang, kita menetapi semesta

Monday, 4 July 2016

Selamat Tinggal, Cinta Sejatiku

Orang-orang pernah bertanya padaku tentang luka.  Aku hanya tersenyum.  Apa yang harus kuceritakan tentang luka? Apakah itu kecewa? Patah hati? Apakah yang mereka harapkan dari jawabanku? Pertanyaan ini mengusik hatiku, mengetuk daun pintu nurani.  Oh, ternyata di sana segala luka memiliki tempatnya sendiri.  Saat kutelusuri, ternyata semua luka telah kualami, kecuali satu.  Ya, bersamamu telah kulalui segala luka.  Kau yang membuatku terluka, pun kau yang mengajarkanku untuk tak pernah bersemayam dalam duka.
            Orang-orang juga pernah bertanya padaku tentang bahagia.  Aku kembali tersenyum.  Apa yang harus kuceritakan tentang bahagia? Apakah itu terharu? Sukacita? Apakah yang mereka harapkan dari jawabanku? Pertanyaan ini kembali membawaku menyusuri setiap inci hati.  Oh, ternyata di sana semua elemen kebahagiaan menempati singgasananya masing-masing.  Aku terus menelusuri ruang hati di mana semua tempat kebahagiaan telah terisi, kecuali satu.  Ya, bersamamu telah kulewati seluruh bahagia.  Kau yang membuatku bahagia, pun kau yang memberi tahu bahwa tak ada bahagia yang sempurna.

Saturday, 7 May 2016

Tiada Henti

Kau tak perlu datang dan pergi
Untuk membuatku kembali jatuh cinta
Setiap kali aku menatapmu, jantungku berdering
Melagukan alunan cinta yang kedua, ketiga, pun seterusnya

Kau pun tak perlu mengetuk pintu hati ini
Karena ia akan selalu terbuka tanpa kauminta
Karena ia takkan pernah tertutup meski harus menunggu lama
Karena ia selalu menanti kedatanganmu setiap hari

Tuesday, 12 April 2016

Kelabu Itu Dirimu

Aku melangkah perlahan
Menyeret kakiku yang enggan
Begitu pun dengan hatiku yang ingin bertahan
Susah payah otakku memaksa untuk tak mempedulikan

Aku berhasil, berdiri di sini
Menemukan warna lain
Dimana cerahnya menembus otakku
Membuatku ingin memunculkan rasa baru

Semakin aku mencoba, semakin luka itu menganga
Hatiku sesak, ia tak pernah ingin terbuka
Ia mengunci rapat dirinya 
Tak memberi celah walau hanya sesaat

Hatiku menolak, tak pernah menerima
Ia hanya setia pada satu warna
Tak peduli meski warna itu tak begitu jelas
Kelabu, bukan putih atau hitam


Warna-warni yang ada hanya mampu menembus otakku
Sedang kelabu dengan kecepatan cahaya begitu mudah menembus hatiku
Sebelum aku berkedip, warna itu telah mengunci sudut hatiku
Mendiami ruang tersendiri dan tak pernah mau beranjak lagi

Kaulah warna itu, kelabu yang menjadi misteri
Membuatku tak pernah mampu untuk melangkah pergi
Meski kau tak pernah sejelas warna lain yang kutemui
Namun hanya kaulah yang selalu membuatku kembali


Friday, 25 March 2016

Kristal Hujan

Hujan turun lagi, bersama rintiknya yang semakin jelas menuruni langit.  Aku masih di sini, mencari jejak-jejak kenangan di antara genangan air hujan.  Aku menyapamu lewat angin agar ia berbelok ke arahmu.  Aku menangkap rintiknya agar dapat selalu kurasa kehadiranmu.  Rintik yang semakin deras semakin menghunjam jantungku, menyelusupkan kenangan-kenangan kita kala itu.
THEME BY RUMAH ES