Ujungnya berakhir, seperti yang kutahu
Tak ada warna getir meski gurat-gurat
Khawatir kentara melekat sebab ingat
Sebuah sempena terakhir, tentangmu
Ujungnya berakhir, seperti yang kutahu
Tak ada warna getir meski gurat-gurat
Khawatir kentara melekat sebab ingat
Sebuah sempena terakhir, tentangmu
“Kamu mau mati?”
Vela menoleh padaku, dahinya berkerut. Wajahnya mengulum senyum, seperti menahan tawa. Namun, sepertinya dia tidak sanggup menahan tawa renyahnya itu hingga beberapa detik kemudian, aku melihat dia tertawa lepas. Ya Tuhan, sungguh dia adalah sebuah anugerah.
Sudah cukup; entah kali keberapa aku mengatakannya. Diri sendirilah yang selama ini kuperangi. Sebetulnya aku tak miliki cara apa pun lagi untuk berjuang, tetapi menyerah pun aku belum mau. Masih ada, kupikir, sesuatu yang bisa mengalahkan segalanya. Akan tetapi, bagimu jua sepertinya semua sudah cukup sampai di sini saja.
Telah kutanggalkan semua yang
Lekat padamu hingga aku taktahu
Mana aku, mana dirimu; apakah kita
Sebetul-betul terikat atau rasaku semu?
Sudah berapa tahun berlalu sejak tanya tak kunjung bertemu jawab? Begitu lama, bukan, mereka dijauhkan kenyataan? Apakah kini telah terlambat? Bolehkah aku menjawab pertanyaan yang bahkan mungkin tak lagi kauingat? Aku hanya merasa mungkin saat ini adalah waktu yang tepat. Setelah begitu banyak yang berserak, setelah hati tak lagi saling tertambat, setelah aku bergerak dengan cepat, semoga jawabanku dapat mengusir penat.