Wednesday, 21 March 2018

Tanpa Bayang

Bukanlah balas dendam aku meninggalkan
Hingga langkahmu tak lagi berbayang
Kala dirimu tak lagi berjalan beriringan
Sebentar saja kau takkan berdampingan

Saturday, 17 March 2018

Langit Selepas Hujan

Dedaunan tertiup semilir angin
Sisa hujan masih membuatnya dingin
Diluncurkannya rintik yang tertahan
Di bawah langit selepas hujan


Wednesday, 28 February 2018

Orang Ketiga

            Waktu terus berjalan dan kurasa semuanya telah selesai. Aku telah cukup dikejar berbagai tanya yang hingga kini belum menemukan jawab sebagai jodohnya. Aku mengira bahwa takkan lagi ada yang mengharuskanku bertanya-tanya, gelisah, dan terus terusik ketika detik berganti detik. Namun, ternyata aku salah. Perjalananku belum selesai.
            Aku kembali dihadapkan pada dunia yang hingga saat ini belum pernah bisa kuatur sedemikian rupa. Di sini, tak ada yang bisa kulakukan, tak ada yang bisa kuubah sebab segalanya berlangsung hanya dalam waktu yang singkat, tetapi menyisakan kenang yang lekat. Siapakah kau? Mengapa kau bisa ada di depanku dengan sebuah hadiah yang kauletakkan di meja itu?

Sunday, 21 January 2018

Jatuh Cinta Tanpamu

Bukanlah sesuatu yang mudah ketika
Harus membangun rasa padahal hati
Tak bisa menciptakan cinta kecuali
Tuhan yang menitipkan dalam dada

Adalah engkau yang hingga kini masih ada meski
Tahun telah berganti, bulan telah berjalan, dan
Menit telah berlari bersama detik-detik yang
Kini kecepatannya tak bisa diimbangi

Perihal jatuh cinta yang pernah engkau juga aku rasa
Jatuhmu tak lagi aku, sedang jatuhku selalu dirimu
Kala sebuah nyaman membuatmu meninggalkan
Tersisalah aku dan segala kenang tak habis darimu

Saturday, 23 December 2017

Mata dan Senyum Sehangat Mentari

            Aku tak pernah mengira akan bertemu denganmu ketika baru saja aku melepaskannya. Saat itu, kala aku telah benar-benar merelakannya pergi bersama sosok yang dicintainya, yang mampu membuatnya lebih bahagia daripada aku, kau melintas tak beberapa lama kemudian. Aku yang baru saja melepaskan kesempatan untuk kembali bersamanya, justru dipertemukan denganmu yang entah siapa. Aku telah membulatkan tekad untuk tidak lagi memiliki asa walau sebesar atom kepadanya. Aku sudah tak lagi berharap meski akan terus mencintainya.
            Ketika dia telah berjalan meninggalkanku yang masih berdiri menata hati, seraut wajah kutangkap melintas, membuat mataku membulat tak percaya. Kau menoleh ke arahku, tersenyum, seperti sudah begitu lama mengenalku. Kala itu, aku justru mematung. Kau dengan mata dan senyum sehangat mentari, datang tepat waktu, ketika hujan badai baru saja berlalu, ketika hati ini sudah seperti debu yang siap ditiup terbang kapan saja. Kau bukan pelangi yang memberi keindahan dengan tujuh warnanya yang khas. Kehadiranmu benar-benar menghangatkan, tepat seperti hari pertama musim semi setelah musim dingin yang membekukan.
THEME BY RUMAH ES