Sunday, 24 January 2016

Satu Hati

Vanda merapatkan jaketnya ketika keluar dari restoran. Ponselnya berdering, nama kekasihnya muncul di sana. Vanda menyentuh gambar berwarna merah, ia malas mendengar ocehan kekasihnya itu karena tidak ingin diajak makan malam kali ini. Jujur saja, Vanda bosan, kekasihnya begitu posesif.  Vanda belum ingin pulang, ia justru melangkah menuju taman. Ia malas pulang cepat karena bisa saja kekasihnya itu sedang menunggunya di rumah untuk meminta penjelasan.
Mobil itu diparkir di dekat taman setelah digunakan pemiliknya untuk mengantarkan sang putri pulang ke rumahnya. Pemilik mobil itu tidak segera pulang, ia ingin menikmati malam sendirian, setelah menghabiskan waktu bersama kekasihnya seharian. Ia turun dari mobil lalu berjalan di sekitar taman yang ramai.
Dua pasang mata itu bertemu, tepat di bawah purnama yang benderang. Mereka berhenti melangkah, seolah pertemuan itu adalah hal paling aneh yang pernah mereka alami dalam hidup. Dua pasang mata itu masih terus saling menatap meski tak ada kata yang terucap. Bintang-bintang di angkasa menjadi saksi bisu di antara mereka.

Saturday, 5 December 2015

Sederhana

Aku mencintaimu, selalu mencintaimu. Orang bilang cinta itu buta, ya, mungkin benar. Aku tetap mencintaimu meski kau tak mencintaiku, mungkin karena aku tak bisa melihat kenyataan itu. Ada yang bilang cinta juga tuli, ya, mereka tak salah. Aku tetap di sini meski kau telah memintaku untuk tak lagi di sini, mungkin karena aku tak bisa mendengarkan perintahmu.

Sunday, 18 October 2015

Hujan dan Mentari

Langkah ini masih memaku diriku
Tak membiarkan untuk maju
Berdiri menata hati
Mencari arti perasaan ini

Kau di sana
Menungguku untuk berjalan
Menatapku penuh harapan
Membiarkanku berjalan sendirian

Dia di sana
Pada jalan yang berbeda
Menantiku untuk pulang
Setelah lama menghilang


Kau datang di saat tidak tepat
Kau seperti mentari yang membuatku hangat
Namun aku sudah terlalu nyaman dengan hujan
Bagaimana aku berpindah haluan?

Kuakui, kau telah memiliki ruang di hatiku
Meski di ruang hati yang lain, ada dia selalu
Bagaimana caranya aku memilih?
Sedang kalian membentuk pelangi


Saturday, 17 October 2015

Semanis Sabit

Aku mulai lelah berlari terbirit-birit
Mengejarmu di jalan yang sempit
Bolehkah aku beristirahat sedikit?

Sakit
Hati ini terjepit
Luka itu mengimpit
Namun aku tak bisa menjerit

Mempertahankanmu, rasanya begitu rumit
Melepaskanmu pun 'kan terasa pahit
Melupakanmu, tentu teramat sulit

Maka, kubiarkan saja kaupergi jauh menuju langit
Tak usah pedulikan aku jika semuanya membuatku sakit
Karena aku akan selalu mengenang senyummu yang semanis sabit

Sunday, 6 September 2015

Lelaki Terakhir

Din! Din! Suara klakson mobil Josen terdengar saat Azura menyisir rambutnya. Ia langsung berjalan menuju balkon. “Sebentar,” teriaknya saat melihat Josen tengah bersandar di samping mobil seraya menatap Azura yang berdiri di balkon kamarnya.
            “Kamu udah cantik, kok, nggak perlu dandan,” timpal Josen dengan santainya.
            Azura menatap Josen heran, “Kamu ngapain berdiri di situ? Tunggu aja di mobil biar nggak kehujanan.”
            Belum sempat Josen menjawab, Azura telah melesat masuk ke kamar dan beberapa saat kemudian ia sudah berdiri di depan pintu rumahnya. Azura menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan Josen. “Kenapa kamu masih di situ?”
            Josen langsung terkekeh melihat ekspresi Azura seperti itu. Josen kemudian berjalan mendekati Azura lalu mengacak-acak rambutnya. “Perhatian banget, deh, sampai ngelarang aku berdiri di bawah hujan,” goda Josen seraya tersenyum geli.
THEME BY RUMAH ES