Sunday, 18 October 2015

Hujan dan Mentari

Langkah ini masih memaku diriku
Tak membiarkan untuk maju
Berdiri menata hati
Mencari arti perasaan ini

Kau di sana
Menungguku untuk berjalan
Menatapku penuh harapan
Membiarkanku berjalan sendirian

Dia di sana
Pada jalan yang berbeda
Menantiku untuk pulang
Setelah lama menghilang


Kau datang di saat tidak tepat
Kau seperti mentari yang membuatku hangat
Namun aku sudah terlalu nyaman dengan hujan
Bagaimana aku berpindah haluan?

Kuakui, kau telah memiliki ruang di hatiku
Meski di ruang hati yang lain, ada dia selalu
Bagaimana caranya aku memilih?
Sedang kalian membentuk pelangi


Saturday, 17 October 2015

Semanis Sabit

Aku mulai lelah berlari terbirit-birit
Mengejarmu di jalan yang sempit
Bolehkah aku beristirahat sedikit?

Sakit
Hati ini terjepit
Luka itu mengimpit
Namun aku tak bisa menjerit

Mempertahankanmu, rasanya begitu rumit
Melepaskanmu pun 'kan terasa pahit
Melupakanmu, tentu teramat sulit

Maka, kubiarkan saja kaupergi jauh menuju langit
Tak usah pedulikan aku jika semuanya membuatku sakit
Karena aku akan selalu mengenang senyummu yang semanis sabit

Sunday, 6 September 2015

Lelaki Terakhir

Din! Din! Suara klakson mobil Josen terdengar saat Azura menyisir rambutnya. Ia langsung berjalan menuju balkon. “Sebentar,” teriaknya saat melihat Josen tengah bersandar di samping mobil seraya menatap Azura yang berdiri di balkon kamarnya.
            “Kamu udah cantik, kok, nggak perlu dandan,” timpal Josen dengan santainya.
            Azura menatap Josen heran, “Kamu ngapain berdiri di situ? Tunggu aja di mobil biar nggak kehujanan.”
            Belum sempat Josen menjawab, Azura telah melesat masuk ke kamar dan beberapa saat kemudian ia sudah berdiri di depan pintu rumahnya. Azura menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan Josen. “Kenapa kamu masih di situ?”
            Josen langsung terkekeh melihat ekspresi Azura seperti itu. Josen kemudian berjalan mendekati Azura lalu mengacak-acak rambutnya. “Perhatian banget, deh, sampai ngelarang aku berdiri di bawah hujan,” goda Josen seraya tersenyum geli.

Wednesday, 12 August 2015

Percaya

Hai, Pencuri Hati.  Bagaimana kabarmu di sana? Desau angin tak lagi menyapaku dengan hangat seperti dulu.  Apakah kau sudah lupa bagaimana caranya memanggilku melalui angin yang berembus? Ah, mungkin kau benar-benar lupa, kau terlalu sibuk hingga tak lagi memedulikanku.
            Aku merindukanmu seperti kering merindukan hujan. Bahkan, lebih dari itu.  Aku membutuhkanmu, bukan hanya merindukanmu. Tahukah kau, aku mencintaimu sebesar aku merindukanmu, seperti aku membutuhkanmu. Kupikir hanya cinta yang bertepuk sebelah tangan, namun ternyata rindu pun demikian.

Monday, 27 July 2015

Aku Tahu

Aku tahu kau telah pergi bersamanya, meninggalkan aku, perasaan ini, dan kenangan kita di sini. Kaupergi semakin jauh hingga aku tak bisa melihatmu seperti dulu.  Hatimu telah berlabuh—bukan di hatiku.
            Aku tahu kau dan dia hebat, sungguh aku akui itu. Kalian mampu bertahan walaupun banyak cobaan. Kau ingat berapa lama kita bertahan? Hanya sekejap karena kau lebih memilih untuk menyerah, membiarkanku bertahan sendirian—hingga saat ini.
            Aku tahu kau telah bahagia bersamanya.  Aku tak bisa mengusikmu karena aku pun tak ingin merusak kebahagiaanmu.  Aku pun ingin bahagia—bersamamu tentunya.  Namun, aku tahu kau tak akan melihatku lagi meski aku memohon-mohon padamu.
THEME BY RUMAH ES