Sunday, 6 September 2015

Lelaki Terakhir

Din! Din! Suara klakson mobil Josen terdengar saat Azura menyisir rambutnya. Ia langsung berjalan menuju balkon. “Sebentar,” teriaknya saat melihat Josen tengah bersandar di samping mobil seraya menatap Azura yang berdiri di balkon kamarnya.
            “Kamu udah cantik, kok, nggak perlu dandan,” timpal Josen dengan santainya.
            Azura menatap Josen heran, “Kamu ngapain berdiri di situ? Tunggu aja di mobil biar nggak kehujanan.”
            Belum sempat Josen menjawab, Azura telah melesat masuk ke kamar dan beberapa saat kemudian ia sudah berdiri di depan pintu rumahnya. Azura menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan Josen. “Kenapa kamu masih di situ?”
            Josen langsung terkekeh melihat ekspresi Azura seperti itu. Josen kemudian berjalan mendekati Azura lalu mengacak-acak rambutnya. “Perhatian banget, deh, sampai ngelarang aku berdiri di bawah hujan,” goda Josen seraya tersenyum geli.

Wednesday, 12 August 2015

Percaya

Hai, Pencuri Hati.  Bagaimana kabarmu di sana? Desau angin tak lagi menyapaku dengan hangat seperti dulu.  Apakah kau sudah lupa bagaimana caranya memanggilku melalui angin yang berembus? Ah, mungkin kau benar-benar lupa, kau terlalu sibuk hingga tak lagi memedulikanku.
            Aku merindukanmu seperti kering merindukan hujan. Bahkan, lebih dari itu.  Aku membutuhkanmu, bukan hanya merindukanmu. Tahukah kau, aku mencintaimu sebesar aku merindukanmu, seperti aku membutuhkanmu. Kupikir hanya cinta yang bertepuk sebelah tangan, namun ternyata rindu pun demikian.

Monday, 27 July 2015

Aku Tahu

Aku tahu kau telah pergi bersamanya, meninggalkan aku, perasaan ini, dan kenangan kita di sini. Kaupergi semakin jauh hingga aku tak bisa melihatmu seperti dulu.  Hatimu telah berlabuh—bukan di hatiku.
            Aku tahu kau dan dia hebat, sungguh aku akui itu. Kalian mampu bertahan walaupun banyak cobaan. Kau ingat berapa lama kita bertahan? Hanya sekejap karena kau lebih memilih untuk menyerah, membiarkanku bertahan sendirian—hingga saat ini.
            Aku tahu kau telah bahagia bersamanya.  Aku tak bisa mengusikmu karena aku pun tak ingin merusak kebahagiaanmu.  Aku pun ingin bahagia—bersamamu tentunya.  Namun, aku tahu kau tak akan melihatku lagi meski aku memohon-mohon padamu.

Monday, 22 June 2015

Titipan

Kau adalah titipan
Suatu saat harus kukembalikan
Suatu saat harus kulepaskan

Kau adalah titipan
Harus kujaga selama ku bisa
Harus kulindungi agar tak terluka

Kau adalah titipan
Kepadaku kau bercerita
Akulah yang menghapus air mata

Kau adalah titipan
Namun, maafkan aku
Sungguh, maafkan aku

Kau adalah titipan
Namun, rasa itu hadir tanpa kuminta
Tak pernah hilang meski sedikit saja

Kau adalah titipan
Kini kau telah mampu terbang
Kau telah temukan sebongkah bahagia

Kau adalah titipan
Ke mana pun kaupergi, tak bisa kutahan
Ke mana pun kau berlari, harus kubiarkan

Kau adalah titipan
Tugasku mungkin sudah selesai
Saatnya kau berdiri sendiri

Friday, 8 May 2015

Jika Waktu Dapat Kuputar

 Jika waktu dapat kuputar, aku akan menatapmu lebih lama saat tanpa sengaja kutemukan dirimu di antara mereka.  Takkan kubiarkan kauberlalu dari pandangan agar aku tetap dapat memandangmu setiap waktu.  Sungguh, kau selalu jadi sosok impian, namun aku tak pernah menyadari siapa aku.  Kau dan aku seperti langit dan bumi.  Kau begitu jauh, sulit untuk kugapai walau aku terus berusaha mencapai.  Aku hanya orang biasa yang diam-diam memendam rasa pada sosok istimewa sepertimu. Ya, mungkin aku tak tahu diri.
            Jika waktu dapat kuputar, aku akan mencintaimu lebih cepat dan menggenggammu lebih erat.  Takkan kubiarkan kaupergi dengan sosok lain agar aku tetap dapat bersamamu selalu.  Sungguh, kau selalu jadi bunga tidurku, namun aku tak menyadari kenyataan di depan.  Kau dan aku ada di dunia berbeda.  Kau menapakkan kakimu pada realita, sedang aku terus mengangkasa dalam mimpi dan angan.  Aku hanya orang yang bisa mencintaimu tanpa ada di sampingmu.  Ya, mungkin aku hanya pengkhayal.
THEME BY RUMAH ES